Kamis, Desember 29, 2011

Teori Sosiologi Ferdinand Tonnies

Riwayat hidup Ferdinand Tonnies
Ferdinand Toennies lahir di Schleswig, Jerman Timur pada tahun 1855 dan wafat pada tahun 1936. Sepanjang hidupnya ia bekerja di Universitas Kota Kiel. Hasil karyanya yang terkenal membahas tentang teori perubahan masyarakat yaitu Gemeinschaft dan Gesellschaft (yang dipublikasikan pertamakali pada tahun 1887) yang selanjutnya diedit dan di alihbahasakan kedalam bahasa Inggris menjadi Community and Society (1957) oleh Charles P. Loomis, karyanya yang lain yang berupa essai-essai tentang sosiologi terdapat di dalam bukunya Einfuhrung in die Soziologie (An Introduction to Sociology).
Ferdinand Tonnies juga melatarbelakangi berdirinya Genman Sosiological Association (1909, bersama dengan George Simmel, Max Webber, Wemer Sombart, dan lainnya). Diakhir usianya Tonnies adalah seorang yang aktif menentang gerakan NAZI di Jerman dan seringkali ia diundang menjadi professor tamu di University of Kiel, setelah hampir masa hidupnya ia gunakan untuk melakukan penelitian, menulis, dan mengedit karya para sosiolog dimasanya. Hasil-hasil karya Ferdinand Toennies yang lainnya antara lain ialah Gemeinschaft and Gesselschaft (1887), Sociological Studies and Criticism (3 jilid, 1952), Introduction to Sociology (1937).

Pemikiran Ferdinand Toennies dan Tokoh- tokoh yang mempengaruhi pemikirannya

Masyarakat adalah karya ciptaan manusia sendiri. Hal ini ditegaskan oleh tonnies dalam kata pembukaan bukunya. Masyarakat bukan organisme yang dihasilkan oleh proses- proses biologis, juga bukan mekanisme yang terdiri dari bagian- bagian individual yang masing- masing berdiri sendiri, sedang mereka didorong oleh naluri- naluri spontan yang bersifat menentukan bagi manusia. Masyarakat adalah usaha manusia untuk mengadakan dan memelihara relasi- relasi timbal balik yang mantap. Kemauan manusia mendasari masyarakat.
Berkenaan dengan kemauan itu Toennies membedakan antara zweekwille yaitu kemauan rasional yang hendak mencapai suatu tujuan dan triebwille yaitu dorongan batin berupa perasaan. Keduanya berasal dari Wilhelm Wundt. Kita bicara tentang zweekwille apabila orang hendak mencapai suatu tujuan tertentu dan mengambil tindakan rasional ke arah itu. Suatu no nonsense mentality menuntun orang dalam merencanakan langkah- langkah tepat untuk mencapai tujuan itu. Misalnya di waktu masalah transport di kota metropolitan New York di tangani pada tahun 1811, para ahli membuat suatu streetplan berdasarkan dalil geometri, bahwa garis bujur merupakan jarak paling dekat antara dua titik. Pertimbangan non rasional tidak dimasukkan dalam perhitungan mereka. Biasanya di bidang ekonomi  orang yang hendak mencari keuntungan atau memberi jasa- jasa pelayanan didorong oleh zweekwille. Dalam rangka tujuan itu mereka mendirikan kongsi- kongsi atau relasi- relasi dagang, dimana bukan relasi sendiri yang menjadi pertimbangan melainkan tujuan yang mau dicapai melalui relasi itu.
Triebwille mengikuti sejumlah langkah atau tindakan, yang tidak berasal dari perhitungan akal- budi melulu, melainkan dari watak, hati, atau jiwa yang bersangkutan. Triebwille bersumber pada selera, perasaan, kecenderungan psikis, tradisi atau keyakinan orang. Misalnya, orang bekerja sama karena senang dengan keramaian, atau karena ingin belajar, atau mau menolong, atau merasa diri berguna, kreatif dan sebagainya. Pascal, seorang filsuf Perancis, pernah bekata bahwa hati manusia mempunyai logikanya sendiri, yang sering tidak dimengerti atau mungkin dipertanggungjawabkan oleh pikiran rasional.
Triebwille paling menonjol dikalangan kaum petani, orang seniman, rakyat sederhana, khusunya wanita dan generasi muda. Sedangkan zweekwille lebih menonjol dikalangan pedagang, ilmuwan dan pejabat- pejabat. Distingsi tersebut ini langsung berpengaruh atas corak dan ciri interaksi orang dalam kelompok atau masyarakatnya, sehingga Toennies membedakan masyarakat kedalam dua tipe yaitu:

1.      Gemeinschaft (paguyuban)
Merupakan bentuk kehidupan bersama dimana anggota- anggotanya diikat dalam hubungan batin yang murni dan bersifat alamiah dan bersifat kekal. Dasar hubungan adalah rasa cinta dan persatuan batin yang juga bersifat nyata dan organis sebagaimana dapat diumpamakan peralatan hidup tubuh manusia atau hewan. Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi gemeinschaft adalah bentuk hidup bersama yang lebih bersesuaian dengan triebwille. Kebersamaan dan kerjasama tidak dilaksanakan untuk mencapai suatu tujuan di luar, melainkan dihayati sebagai tujuan dalam dirinya. Orangnya merasa dekat satu sama lain dan memperoleh kepuasan karenanya. Suasanalah yang dianggap penting daripada tujuan. Spontanitas diutamakan diatas undang- undang atau keteraturan. Toennies menyebut sebagai contoh  keluarga, lingkungan tetangga, sahabat- sahabat, serikat pertukangan dalam abad pertengahan, gereja, desa, dan lain sebagainya. Para anggota diperstukan dan disemangati dalam perilaku sosial mereka oleh ikatan persaudaraan, simpati dan perasaan lainnya sehingga mereka terlibat secara psikis dalam suka duka hidup bersama. Dengan kata lain bahwa mereka sehati dan sejiwa. Menurut Ferdinand Toennies prototipe semua persekutuan hidup yang dinamakan gemeinschaft itu keluarga. Ketiga soko guru yang menyokong gemeinschaft adalah:

a.      Gemeinschaft by blood
Yaitu gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ikatan darah atau keturunan. Contoh: kekerabatan, masyarakat- masyarakat suatu daerah yang terdapat di daerah lain. Seperti ikatan mahasiswa Jambi di Yogyakarta.
b.      Gemeinschaft of place
Yaitu gemeinschaft yang mendasarkan diri pada tempat tinggal yang saling berdekatan sehingga dimungkinkan untuk dapat saling tolong menolong. Contoh: RT dan RW.
c.       Gemeinschaft of mind
Yaitu gemeinschaft yang mendasarkan diri pada ideologi atau pikiran yang sama.

2.      Gesellschaft (patembayan)
Merupakan bentuk kehidupan bersama yang merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok dan biasanya untuk jangka waktu yang pendek. Gesellschaft bersifat sebagai suatu bentuk dalam pikiran belaka, serta strukturnya bersifat mekanis sebagaimana dapat diumpamakan pada sebuah mesin. Sedangkan menerut Selo Soemardjan dan Soeliman Soemardi gesellscaft merupakan tipe asosiasi  dimana relasi- relasi kebersamaan dan kebersatuan antara orang berasal dari faktor- faktor lahiriah seperti persetujuan, peraturan, undang- undang dan sebagainya. Menurut Toennies teori gesellschaft berhubungan dengan penjumlahan atau kumpulan orang yang dibentuk atau secara buatan. Apabila dilihat secara sepintas kumpulan itu mirip dengan gemeinschaft yaitu sejauh para individual hidup bersama dan tinggal bersama secara damai tetapi dalam gemeinschaft mereka pada dasarnya terus bersatu sekalipun ada faktor- faktor yang memisahkan, sedang dalam gesellschaft pada dasarnya mereka tetap terpisah satu dari yang lain, sekalipun ada faktor- faktor yang mempersatukan.  Toennies memakai istilah “hidup yang organis dan nyata (real)” untuk relasi- relasi yang berlaku didalam gemeinschaft dan istilah “ struktur yang khayal dan mekanis” untuk relasi- relasi yang berlaku di dalam gesellschaft. Namun Toennies tidak pernah mengatakan bahwa tipe masyarakat gemeinschaft adalah (sama dengan ) organisme, dan tipe masyarakat gesellschaft adalah (sama dengan mekanisme). Sebaliknya ia menolak banyak ralisme maupun nominalisme, yang kedua- duanya sejak aristoteles selalu di bandingkan oleh filsuf- filsuf dan telah menghasilakan dua gambaran masyarkat yang ekstrem. Ia hanya bertujuan untuk melukiskan atas cara abstrak dan dengan memakai konsep- konsep dua bentuk atau tipe kehidupan bersama yang berbeda- beda dan merupakan dua kemungkinan abstrak.

Sebagaimana telah dikatakan oleh Cooley, bahwa konsep- konsep egoisme dan altruisme, pilihan bebas dan kewajiban sosial, hanya saling menolak dibidang konseptual saja, sedang dalam kenyataannya mereka tetap terjalin menjadi satu hidup, demikian juga halnya dengan konsep- kosep gemeinschaft dan gesellschaft.  Dalam kenyataan praktis mereka tidak saling menolak, sebab tidak mungkin ada gemeinschaft tanpa ciri- cir gesellschaft dan tidak ada gesellschaft tanpa ciri- ciri gemeinschaft. Misalnya, keluarga tradisional dan masyarakat desa,yang merupakan contoh- contoh gemeinschaft tidak akan dapat bertahan terus, seandainya tidak ada peraturan, undang- undang, sistem kepemimpinan dan sistem peradilan. Sekalipun orangnya didorong oleh idealisme dan kemauan baik dan menggabungkan diri kedalam suatu gemeinschaft, mereka tetap membutuhkan beberapa  kepastian yang menyangkut rejeki dan kebutuhan lain.di pihak lain, walaupun suatu perusahaan atau administrasi negara diatur dan diselenggarkan secara birokratis dan rasional menurut gambaran gesellschaft, unsur- unsur manusia yang nonrasional akan tetap ikut memainkan peran dan  mempengaruhi interaksi orang yang bersangkutan. Seandainya tidak, mereka menjadi kumpulan robot- robot yang tidak berjiwa. Sama sebagaimana zweekwille dan triebwille selalu terjalin.
Toennies  menegaskan, bahwa setiap relasi selalu mengungkapkan ketunggalan dalam  kebhinekaan, dan kebhinekan dalam ketunggalannya. Hanya kalau kita membuat suatu deskripsi yang umum dan abstrak, kita mempertentangkan unsur yang satu terhadap unsur yang lainnya. Misalnya, kita berkata bahwa seorang seniman menharapkan penghargaan, sedang seorang pedagang mengharapkan keuntungan. Ini suatu pertentangan abstrak dan generalisasi. Sebab dalam kenyataan hidup kedua hal tampak dalam keadaan tercampur. Seniman juga harus mencari uang dan si pedagang sebagai manusia juga menginginkan penghargaan.  Begitu pula dengan kedua tipe masyarakat, mereka selalu berbentuk campuran. Pola interaksi yang berlaku dalam gemeinschaft dan pola yang berlaku dalam gesellschaft tidak salig menolak atau bertentangan satu sama lain. Tiap-tiap relasi mengandung dua aspek, selalu ada dua hal yang kait mengkait dan tidak mungkin dipisahkan. Namun demikian, dalam tipe gemeinschaft unsur hukum, peraturan, dan disiplin kurang diperhatikan dan sama menonjol seperti dalam gesellschaft, sedang unsur perasaan dan solidaritas, yang berasal dari penghargaan (triebwille) tidak begitu menonjol dalam gesellschaft.


Johnson, Doyle Paul. 1988. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid I. Jakarta:     Gramedia.
Soekanto, Soerjono. 1982. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar